Lagi, lagi-lagi terjadi lagi di sini, di kota kelahiranku, Kediri. Kekerasan terhadap perempuan terjadi kembali. Atau sebenarnya memang sudah terjadi sejak lama dan baru terbongkar sekarang? Mungkin lebih tepatnya begitu.
Cuaca pagi hari itu sedang cerah. Tepatnya hari Jum'at. Kami bertiga dengan mengendarai dua sepeda motor bersiap melaju menuju kota beriman, Kota Jombang. Bukan kotanya sih, melainkan kabupaten. Perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam dari Kota Kediri.Sampailah kami di depan sebuah kantor polisi reserse Kabupaten jombang. Hmmm.... Kita mau ngapain ya? Aku hanya mengikuti langkah dua orang perempuan temanku.
Sebut namanya Dian dan Retno (bukan nama sebenarnya). Beberapa pasang mata asyik mengamati langkah kami seperti orang pesakitan saja. Setelah mendapat intruksi dari salah satu bapak petugas, kami meluncur ke Kantor Urusan Agama (KUA). Ada dua orang yang sedang duduk di sebuah kantor mungil yang lumayan bersih. Seorang perempuan berjilbab menyapa dan mempersilahkan kami penuh keramahan. Sementara seorang lagi adalah seorang laki-laki setengah baya tengah asyik ngobrol dengan perempuan berjilbab itu tanpa menghiraukan sama sekali kehadiran kami bertiga, meskipun berulang kali perempuan tersebut mempersilahkan kami duduk. Padahal yang dibicarakannya pun tidak penting -penting amat. Hmmm.....inikah model pelayanan birokrasi terhadap warganya? Ahhhh, gemes aku melihat tingkah Bapak itu. Dalam hati timbul pertanyaan, sebenarnya beliaunya ini manyadari kehadiran kami ataukah tidak sih? Mempersilahkan kami duduk pun, tidak. Langsung mengajukan pertanyaan. Heiii...ilfill rasanya aku. Tapi kulihat sikap temanku, mbak Dian tenang-tenang saja menghadapi orang yang lumayan menyebalkan menurutku. Padahal aku tahu betul temperamennya mbak Dian seperti apa. Sabarrr....... kita sedang melakukan pendampingan terhadap korban kekerasan.
Sebut namanya Dian dan Retno (bukan nama sebenarnya). Beberapa pasang mata asyik mengamati langkah kami seperti orang pesakitan saja. Setelah mendapat intruksi dari salah satu bapak petugas, kami meluncur ke Kantor Urusan Agama (KUA). Ada dua orang yang sedang duduk di sebuah kantor mungil yang lumayan bersih. Seorang perempuan berjilbab menyapa dan mempersilahkan kami penuh keramahan. Sementara seorang lagi adalah seorang laki-laki setengah baya tengah asyik ngobrol dengan perempuan berjilbab itu tanpa menghiraukan sama sekali kehadiran kami bertiga, meskipun berulang kali perempuan tersebut mempersilahkan kami duduk. Padahal yang dibicarakannya pun tidak penting -penting amat. Hmmm.....inikah model pelayanan birokrasi terhadap warganya? Ahhhh, gemes aku melihat tingkah Bapak itu. Dalam hati timbul pertanyaan, sebenarnya beliaunya ini manyadari kehadiran kami ataukah tidak sih? Mempersilahkan kami duduk pun, tidak. Langsung mengajukan pertanyaan. Heiii...ilfill rasanya aku. Tapi kulihat sikap temanku, mbak Dian tenang-tenang saja menghadapi orang yang lumayan menyebalkan menurutku. Padahal aku tahu betul temperamennya mbak Dian seperti apa. Sabarrr....... kita sedang melakukan pendampingan terhadap korban kekerasan.
Ya, kami memang sedang melakukan pendampingan korban kekerasan terhadap perempuan. Mendatangi dua kantor tadi rupanya tidak menghasilkan apa-apa. Sebenarnya tidak bisa dibilang demikian, tapi belum. Ini memang proses awal. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju kantor Kepala Desa. Aku yakin betul, kantor itu pasti tak berpenghuni. Karena jarum jam sudah menunjukkan sekitar pukul 12 siang. Hari Jum'at, waktu efektif kerja birokrasi sangat pendek. Pasti mereka yang ngantor sudah pulang semua. Itu pun kalau semua aparat masuk kantor. Hmmm....kok su'udzon ya...? Ah, mudah-mudahan itu tidak benar. Kami sebenarnya sudah mengetahui hal itu. Akhirnya perjalanan berlanjut ke sebuah rumah bermodel kuno dengan halaman cukup luas, yang ternyata rumah Pak Mudin.
(berlanjut)
(berlanjut)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar